TOP (Talent Optimizing Program)

“Setiap individu adalah unik” dan “Penghargaan dan toleransi pada perbedaan” adalah 2 dari 8 basis pembelajaran yang diterapkan Budi Mulia Dua. Dalam implementasinya, Budi Mulia Dua memegang komitmen ikut ambil bagian dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dengan mengembangkan sekolah inklusif. Sebagai sekolah inklusif, Budi Mulia Dua menyediakan sistem layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan Anak Tanpa Kebutuhan Khusus (ATBK) dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) melalui adaptasi kurikulum, pembelajaran, penilaian, dan sarana prasarananya. 

Budi Mulia Dua  memandang anak setiap individu adalah unik.  Masing-masing anak memiliki bawaan, minat, kapabilitas, dan latar belakang kehidupan yang berbeda satu sama lain. Tidak terkecuali dengan ABK yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan yang memerlukan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing anak. Dalam sistem pembelajaran sekolah inklusif, Budi Mulia Dua menerapkan TOP (Talent Optimizing Program), yaitu program yang mengoptimalkan talenta setiap ABK agar dapat berkembang dan menjadi bekal kehidupan dan masa depannya. ABK kemudian disebut Anak TOP.

Dalam kegiatan belajar di kelas, Anak TOP mendapat pelayanan pendidikan dari guru pembimbing khusus dan sarana prasarananya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Jadi,  setiap anak dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya maupun anggota masyarakat lain sehingga kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Di sinilah, semua anak akan berbaur dan belajar secara riil sikap empati, toleransi dan menghargai perbedaan, serta Anak TOP berkesempatan luas untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi yang sebelumnya menjadi hambatan dalam tahap perkembangannya.

SD Budi Mulia Dua Pandeansari sejak berdiri tahun 2004 menjadi sekolah inklusif. Dengan kuota maksimal 2 Siswa TOP dalam satu kelas, SD Budi Mulia Dua Pandeansari mengakomodir siswa-siswa dengan kebutuhan khusus, antara lain tunagrahita, tuna laras (anak dengan gangguan emosi, sosial dan perilaku), lamban belajar, autis, dan anak dengan potensi kecerdasan luar biasa (gifted).  Kurikulum yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan anak, yaitu kurikulum adaptif dan regular modifikasi yang di dalamnya sudah include  pendidikan karakter dan kemampuan komunikasi. Siswa TOP juga memperoleh pembelajaran tambahan dalam konteks kurikulum regular, yaitu softskill.

Pemilihan strategi pengajaran yang dianggap paling efektif untuk anak disesuaikan pada gaya belajar dan materi yang diajarkan. Metode pengajaran yang umumnya digunakan oleh guru TOP antara lain: Communication (komunikasi) verbal dan non-verbal, Direct Instruction (mengintruksi), dan Prompts (informasi tambahan atau bantuan untuk menjalankan instruksi). Prompts dapat dalam bentuk Verbal Prompts, Modelling (demonstrasi), Gestural Prompts, Physical Prompts, Peer Tuturial, dan Cooperative Learning.

Model-model pembelajaran yang dapat diterapkan disesuaikan dengan kebutuhan siswa,

  • Kelas regular/ inklusi penuh yaitu Siswa TOP yang tidak mengalami gangguan intelektual mengikuti pelajaran di kelas biasa
  • Cluster, Siswa TOP dikelompokkan tapi masih dalam satu kelas regular dengan pendamping khusus.
  • Pull out, Siswa TOP ditarik ke ruang khusus untuk kesempatan dan pelajaran tertentu, didampingi guru khusus,
  • Cluster and pull out, kombinasi antara model cluster dan pull out,
  • Kelas khusus, sekolah menyediakan kelas khusus bagi Siswa TOP, namun untuk beberapa kegiatan pembelajaran tertentu siswa digabung dengan kelas regular,

 

Keberhasilan Siswa TOP ditunjukkan dengan pencapaian target setiap anak, baik akademik, sosial, lifeskill dan softskil. Keberhasilan ini tentu berkat kerjasama yang baik antara sekolah, orangtua, dan Guru Pendamping Khusus (GPK). ………………….

 

Setiap Anak TOP memiliki kemampuan berbed aada yang memiliki kecerdasan rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Untuk Anak TOP dengan kecerdasan semacam itu bisa mengikuti ujian nasional. Namun, untuk Anak TOP dengan kecerdasan kurang seperti tuna grahita sedang sampai berat dan autis dengan kecerdasan kurang diperbolehkan tidak perlu mengikuti ujian nasional. Saat kelulusan sekolah anak tersebut hanya memperoleh Surat Tanda Tamat Belajar (STTB).  Dengan berbekal surat inilah  ABK dapat  melanjutkan ke sekolah inklusi jenjang berikutnya.